• Manfaat Omega 3 Untuk Anak

    Omega 3 memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, salah satunya untuk kecerdasan otak. Omega 3 adalah asam lemak esensial, yaitu lemak yang diperlukan untuk kesehatan tetapi tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh. Asam lemak omega 3 dapat diperoleh dari ikan seperti ikan tuna .

  • Atasi Demam Pada Balita

    Demam pada balita sering terjadi. Demam bukanlah sejenis penyakit, tapi demam adalah tanda sistem pertahanan tubuhnya sedang aktif bekerja. Tidak jarang tubuh balita terasa hangat dan jika diukur hanya naik 0,5 derajat dibandingkan suhu tubuh normal, 36 derajat Celsius. Jika balita panas .

  • Rahim Menekuk Ke Belakang (Retofleksi)

    Rahim retrofleksi adalah letak rahim yang cenderung menekuk ke belakang, ke arah saluran pelepasan. Diperkirakan ada sekitar 30% wanita memiliki rahim retrofleksi. Mayoritas wanita memiliki rahim yang letaknya cenderung ke depan dan condong ke arah perut, yang dinamakan posisi rahim antefleksi. .

  • Kejang pada Bayi

    Kejang dapat terjadi sebagai akibat dari adanya kontraksi otot yang berlebihan yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu dan di luar kendali. Tingginya suhu tubuh pada anak merupakan salah satu penyebab terjadinya kejang demam, istilahnya kejang deman (convalsio febrilis) atau stuip/step.

  • Kenali Penyakit Meningitis

    Meningitis merupakan peradangan pada selaputotak atau sumsum tulang belakang.Jika peradangan terjadi pada daerah tulang belakang dikenal dengan sebutan spinal. Sementara granial meningitis adalah sebutan meningitis yang menyerang daerah otak.

Kamis, 22 Maret 2018

Pentingnya Proses Menidurkan Si Kecil

Posted by Bundamedik Healthcare System on 11.29 with No comments

Tidur merupakan hal yang sangat penting bagi bayi. Kualitas tidur bayi  berpengaruh tidak hanya pada perkembangan fisik, namun juga terhadap perkembangan emosinya. Kuantitas dan kualitas tidur seorang bayi harus terpenuhi dengan baik. Bayi yang tidur cukup tanpa sering terbangun akan lebih bugar dan tidak gampang rewel keesokan harinya.

Pada tidur terdapat dua fase yang sama-sama penting bagi seorang bayi. Pertama adalah fase  tidur REM (rapid eye movement) atau fase tidur aktif. Ciri-ciri tidur bayi pada fase ini antara lain, napas tidak teratur, tubuh cenderung tegang,  bola mata bergerak-gerak di bawah kelopak mata, dan bayi mudah terbangun dari tidurnya. Fase ini berperan dapat restorasi emosi dan kognitif bayi. Pada bayi usia 1 bulan, fase REM berkisar 50%, namun fase ini akan berkurang seiring bertambahnya usia anak hingga mencapai 20% pada usia 3 tahun.

Sebaliknya, fase non-REM atau tidur tenang atau tidur nyenyak ditandai dengan keadaan sangat santai, relaks, berbaring tenang dengan detak jantung dan tarikan napas yang teratur, dan hampir tidak ber-mimpi. Sulit membangunkan bayi dalam fase tidur ini. Fase ini berperan dalam restorasi  fisik, dimana terjadi pelepasan hormon pertumbuhan pada fase tidur ini.  Seiring bertambahnya usia anak, fase non REM yang mulanya 50% dari total tidur berangsur akan bertambah dan mencapai 80% total tidur anak usia 3 tahun.

Proses menidurkan si kecil juga merupakan bagian penting dari tidur bayi. Bayi yang sulit tidur akan mempengaruhi kuantitas dan kualitas tidurnya. Berikut beberapa tips untuk menidurkan bayi.
  1. Ciptakan rutinitas
    Pada awalnya bayi belum dapat membedakan siang dan malam, oleh karena itu bantulah ia dengan melakukan rutinitas yang biasa seperti sebelum menidurkan bayi dimandikan,  dikenakan baju tidur yang nyaman dan dininabobokan setiap sore. Anda dapat menempatkan benda kesayangan si kecil di dekatnya agar ia merasa nyaman.
  2. Ruangan dan baju yang nyaman
    Ciptakanlah suasana ruangan yang nyaman, cukup hangat dan tenang. Jangan biasakan bayi tidur setiap malam di ruang tamu atau ruang lainnya yang terdapat banyak orang. Biasakan saat bayi akan tidur hanya ada orang tertentu saja yang menemaninya hingga tertidur. Pilihlah baju tidur yang nyaman untuk si kecil, yang menyerap keringat namun tidak juga membuatnya kedinginan. Bila ruang ber AC, sesuaikanlah suhu agar bayi tidak kedinginan atau kepanasan.
  3. Biasakan lampu dinyalakan agak redup saat tidur.
    Dengan menyalakan lampu lebih redup pada saat tidur akan membantu bayi belajar perbedaan siang dan malam. Bayi akan mengerti bahwa suasana yang lebih redup atau gelap merupakan suasana malam dan merupakan waktu tidur.
  4. Perlakukan kegiatan siang dan malam secara berbeda.
    Biasakan kegiatan yang sama diperlakukan berbeda antara siang dan malam. Misalnya saat siang hari setelah bayi selesai menyusu bayi diajak bermain atau beraktifitas, namun setiap akan ditidurkan, selesai bayi menyusu suasana dibuat nyaman dan siap untuk tidur.
  5. Meninabobokan dengan lagu atau musik
    Bayi akan merasa aman dan nyaman bila mendengarkan suara ibunya bersenandung atau mendengarkan music yang menenangkan. Musik yang diperdengarkan tidak harus music klasik, namun dapat dipilih music lain yang menenangkan bayi.
  6. Massage atau pijatan yang lembut
    Pijatan atau stimulasi sentuhan yang lembut dapat menenangkan dan membuat bayi merasa nyaman. Sehingga waktu yang diperlukan agar bayi tertidur lebih singkat, dan bayi tidur lebih lelap.
  7. Membacakan cerita
    Membacakan cerita untuk bayi sebagai pengantar dapat dimulai dengan sekedar membacakan cerita sederhana. Pada awalnya bayi mungkin tidak mengerti dengan cerita ibu, namun ia akan terbiasa dengan rutinitas membaca cerita sebagai pengantar tidurnya. Bacalah cerita dengan suara lembut. Kebiasaan ini dapat melatih bayi mengenal bahasa.
  8. Hindari kegiatan yang terlalu aktif seperti melompat-lompat atau menonton televisi sebelum tidur. Biasakan suasana yang lebih tenang sebelum tidur.
Beberapa tips agar bayi aman dan lelap tidurnya.
  1. Letakkanlah bayi pada posisi terlentang saat tidur. Posisi terlentang memiliki risiko yang relative lebih kecil dibanding dengan tidur dalam posisi tengkurap atau miring, terutama pada usia bayi yang masih muda dimana bayi belum mampu mengangkat kepalanya. Bila bayi sudah dapat mengangkat dan mengontrol gerakan kepalanya, maka bayi sudah dapat tidur dalam posisi yang lebih bervariasi asalkan tetap dijaga.
  2. Pastikan muka tidak tertutup selimut, bantal, atau lainnya saat tidur. Bila ingin sediakan bantal, sediakanlah bantal yang tipis dan ringan. Sebaiknya tempat tidur bayi rata sehingga mengurangi kemungkinan hidung bayi tertutup lekukan kasur saat bayi tengkurap.
  3. Hindari meletakkan mainan, boneka atau benda lain di tempat tidur bayi untuk menghindari bayi tertutup jalan nafasnya.
  4. Sebaiknya hindari menidurkan bayi satu tempat tidur dengan anak atau orang dewasa lain. Bila mungkin letakkan bayi di tempat tidur khusus bayi yang diletakkan di dekat ibu.
  5. Jangan merokok saat bayi tidur.

Sumber : DR. dr. Rini Sekartini, SpAK – RSIA Bunda Jakarta

Rabu, 21 Maret 2018

Menguak salah satu pengobatan kanker kemoterapi

Posted by Bundamedik Healthcare System on 11.06 with No comments
Kemoterapi  atau yang dikenal dengan kata kemo atau obat cito tosic adalah pengobatan yang menggunaan zat kimia atau  racun untuk memerangi sel-sel kanker. Sejarah pengobatan kemoterapi berawal dari pasca operasi militer Perang Dunia II. Saat itu beberapa pelaut   yang  terkena gas mustard ternyata memiliki jumlah sel darah putih yang sangat rendah. Umumnya sel darah putih tumbuh sangat cepat. Melihat hal ini, para dokter melakukan pengujian  terhadap pasien limfoma dengan menggunakan zat kimia yang terkandung dalam gas mustard. Alhasil zat itu memperlambat atau menghentikan  pembelahan dan pertumbuhan sel-sel kanker. Selama dua dekade beberapa  obat ditingkatkan dan telah terdapat  lebih dari 100 jenis obat kemoterapi.

CARA KERJA

Kemoterapi bekerja dengan cara menghentikan atau memperlambat pertumbuhan sel kanker yang tumbuh dan membelah cepat. Kemoterapi digunakan untuk: Pengobatan Kanker. Kemoterapi digunakan untuk menyembuhkan kanker dan mengurangi bahkan mencegah kekambuhan. Peredaan gejala kanker Kemoterapi dapat pula digunakan  untuk memperkecil tumor yang menyebabkan rasa sakit dan masalah lain.

CARA PENGOBATAN

Pengobatan kemoterapi dilakukan tergantung kepada jenis kanker yang diderita. Terdapat berbapa metode  pengobatan, diantaranya:
  • Topikal. Digunakan melalui krim yang dioleskan pada kulit.
  • Oral. Kemoterapi dalam bentuk pil, kapsul, atau cairan
  • Suntik. Diberikan melalui suntikan pada otot atau lapisan lemak misalnya di lengan atau perut.
  • Intraperitoneal (IP). Kemoterapi langsung diberikan ke dalam rongga perut yang terdapat usus, hati, dan lambung di dalamnya.
  • Intra-arteri (IA). Kemoterapi langsung dimasukkan ke dalam arteri yang menyalurkan darah ke kanker.
  • Intravenous (IV). Kemoterapi langsung dimasukkan ke pembuluh darah vena. Metode ini digolongkan yang
  • terbanyak.

EFEK SAMPING

Pada umumnya masyarakat langsung menghubungkan kemoterapi dengan efek  samping yang tidak nyaman. Sebenarnya  manajemen efek samping sejak 20 tahun terakhir telah membaik. Efek samping yang ditimbulkan kemoterapi bagi pasien bersifat subjetif dan kasuistis. Hal itu jenis, stadium, cara pengobatan, dosis dan toleransi pasien.

Efek samping kemoterapi muncul karena obat-obatan tersebut tidak memiliki kemampuan membedakan sel kanker yang berkembang pesat dengan sel sehat yang secara normal juga memiliki perkembangan pesat. Misalnya, rambut,  sel darah, sel kulit, serta sel-sel yang ada di dalam perut sehingga kemoterapi memiliki efek negatif.

Berikut adalah gejala efek samping yang bisa terjadi akibat kemoterapi:
  • Mual dan muntah
  • Rambut rontok (Alopecia).
  • Rasa lelah dan lemah sepanjang hari, kesemutan atau pegel linu.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Sistim imun menjadi rendah akibat jumlah sel darah putih berkurang/
  • Neutropenia)
  • Sesak napas dan detak jantung tidak biasa akibat anemia..
  • Mimisan.
  • Kulit kering dan terasa perih
  • Gampang memar.
  • Gusi berdarah.
  • Sulit tidur.
  • Gairah seksual menurun.
  • Konstipasi atau diare.
  • Anemia




















Hal terpenting, efek samping kemoterapi tersebut akan segera hilang dan bisa dicegah setelah pengobatan selesai. Selain itu, efek kemoterapi tidak akan menimbulkan akibat yang berbahaya bagi kesehatan.

KELOLA

Telah diketahui bahwa selain menargetkan sel-sel kanker, kemoterapi juga dapat merusak sel-sel sehat dan menyebabkan efek samping yang tidak menyenangkan. Karenanya perlu pasien kemoterapi memperhatikan beberapa hal. Diantaranya:
  • Hindari diri dari orang orang yang sakit atau terkena infeksi selama  kemoterapi, karena tingkat sel darah putih yang menurun dengan cepat sehingga dapat meningkatkan risiko infeksi.
  • Hindari menyetir kendaraan sendiri atau aktivitas yang memerlukan energi atau konsentrasi tinggi setelah sesi  kemoterapi. Ajaklah anggota keluarga atau kawan untuk menemani pasien pulang setelah kemoterapi.
  • Jika memungkinkan, pasien dapat bekerja di rumah atau paruh waktu.
  • berkonsultasi dengan dokter ketika ingin  mengonsumsi obat-obat lain, termasuk obat alergi, herba, pereda nyeri, dan lainnya. Hindari konsumsi minuman  keras setidaknya selama masa kemoterapi. Jika mengalami gejala seperti demam, diare, muntah-muntah, sulit bernapas, sakit dada atau pendarahan, segera temui dokter

Mengobati penyakit berbahaya seperti kanker tidaklah mudah, termasuk saat menjalani sesi kemoterapi.oleh  karenanya support dari keluarga pun harus mendukung. Tetap semangat, pantang menyerah dan patuh sampai  kemoterapi selesai.



















MRI Pemeriksaan Lanjutan Kanker Payudara

Posted by Bundamedik Healthcare System on 11.06 with No comments


Agar mendapat hasil pemeriksaan yang lebih tepat dan akurat, MRI merupakan alat yang dapat membantu menentukan kelainan, atau keganasan tumor pada payudara. Seiring perkembangan teknologi kedokteran Magnetic Resonance Imaging (MRI) telah menjadi alat yang mumpuni dalam mendeteksi kelainan organ tubuh, salah satunya kanker payudara. Di Indonesia, kanker payudara menduduki posisi kedua di bawah kanker leher rahim sebagai penyebab kematian tertinggi pada wanita. Sementara data World Health Organization (WHO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 78% memperlihatkan kanker payudara terjadi pada wanita usia 50 tahun ke atas. Hanya enam persennya terjadi pada mereka yang berusia kurang dari 40 tahun. 

Meski demikian, kian hari makin banyak penderita kanker payudara yang berusia 30-an. Pemeriksaan guna mendeteksi kelainan pada payudara pada umumnya dilakukan dengan mammografi dan USG. Namun jika pemeriksaan dengan Mammografi dan USG kurang ’jelas’, dilakukan pemeriksaan MRI. ”Work up untuk pemeriksaan payudara adalah pemeriksaan mammografi, USG, kemudian MRI. Namun prosedur itu dapat berubah tergantung kondisi dan usia pasien. Jika usia pasien di bawah 35 tahun pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah USG. 

Sedangkan pasien usia di atas 35 tahun menggunakan mammografi,” urai dr. Aditya Hapsan, SpRad, dokter spesialis radiologi RSU Bunda Jakarta. Mammografi telah terbukti mampu melakukan tujuan screening yakni mendeteksi adanya sel tumor yang sangat kecil. Namun soal kenyamanan pasien saat pemeriksaan relatif kurang. Hal ini dikarenakan saat pemeriksaan, payudara pasien akan mendapat tekanan. Sedangkan pemeriksaan USG memiliki keunggulannya berupa kemampuan pembedaan antara kista dengan tumor padat. Tetapi secara umum kepekaaan alat ini tak sebanding dengan MRI. ”Kemampuan MRI mampu melihat penyebaran sel kanker payudara di organ-organ lain dalam tubuh. Kalau USG dan Mammografi hanya melihat lokal. 

Penyebab pasien kanker payudara meninggal adalah bukan dikarenakan kanker payudaranya berada di daerah ’lokal’ tetapi sudah sampai mana penyebarannya,” tandas dr. Aditya. MRI payudara selain dapat digunakan untuk mendeteksi penyebaran kanker payudara secara lokal, alat ini pun mampu memberikan nilai tambahan informasi pengobatan terhadap penyakit ini. Adapun caranya dengan memberikan kontras media melalui pembuluh darah vena. Tak hanya itu. MRI pun dapat menentukan letak tumor yang multipel terutama pada pascaoperasi payudara dengan teknik Breast Conservation Surgery (BCT). Hebatnya lagi, MRI payudara juga dapat membedakan antara jaringan bekas operasi (jaringan parut) dengan kanker yang rekuren (kambuh), dan masih banyak lagi.

Saat Persiapan
Dalam pemeriksaan MRI, pasien tak perlu melakukan persiapan khusus. Namun terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan misalnya:
  • Pasien harus memeriksakan ureum dan kreatinin secara laboratorium darah.
  • Pasien diminta untuk melepaskan beberapa benda-benda logam.
  • Pasien akan diminta untuk mengisi kuesioner/ selembar kertas mengenai keadaan pasien sebelum dilakukan pemeriksaan MRI.
  • Pasien akan ditanyakan juga riwayat kesehatan atau operasi sebelumnya.
  • Pasien diminta untuk berbaring tenang dan rileks di meja pemeriksaan di ruang khusus.
  • Pasien dipasangkan penutup telinga untuk mengurangi bunyi mesin yang tidak diinginkan.
Pemberian kontras media intra vena harus diberikan untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat yang akan memperjelas kelainan yang ada di dalam tubuh. Sehingga pasien dianjurkan untuk puasa empat jam sebelumnya.

Saat Pemeriksaan
Pada waktu pemeriksaan MRI secara umum, ada beberapa keadaan yang perlu diketahui masyarakat, yakni:
  • Pasien akan dibaringkan dengan posisi kedua lengan di samping badan. Khusus untuk pemeriksaan payudara, pasien diminta untuk tidur telungkup dengan tangan diatas kepala.
  • Meja MRI kemudian akan di gerakkan masuk ke medan magnet sesuai organ yang akan diperiksa.
  • Pasien akan mendengar suara dari gelombang radio seperti suara ketukan selama pemeriksaan berjalan.
  • Selama pemeriksaan, pasien akan selalu diawasi dan dapat berkomunikasi dengan petugas.
  • Pasien juga akan diberi bel di tangan bila ingin memanggil petugas MRI atau ingin mengakhiri pemeriksaan.
  • Selama pemeriksaan pasien diperbolehkan ada pendamping.
  • Lama pemeriksaan biasanya 10-20 menit.

Melalui MRI payudara, pasien relatif tak merasakan sakit, dan pasien pun tak kena radiasi sinar X. Hasil pemeriksaannya pun lebih akurat dan detail.




Komplikasi Kanker Serviks

Posted by Bundamedik Healthcare System on 11.06 with No comments
Komplikasi bisa muncul akibat dari pengobatan atau karena stadium kanker serviks yang sudah memasuki tahap akhir.

Efek Samping Pengobatan Kanker Serviks

Pengobatan kanker serviks berisiko menyebabkan beberapa efek samping yang dihadapi oleh penderita.

Mengalami menopause dini
Menopause adalah kondisi ketika ovarium berhenti memproduksi hormon estrogen dan progesteron. Kondisi ini biasanya terjadi pada wanita sekitar umur 50 tahun. Menopause dini bisa terjadi jika ovarium diangkat melalui operasi atau bisa juga karena ovarium rusak akibat efek samping radioterapi. Beberapa gejala yang bisa muncul akibat kondisi ini adalah:
  • Vagina kering.
  • Menstruasi berhenti atau tidak teratur.
  • Kehilangan selera seksual.
  • Sensasi rasa panas dan berkeringat (hot flushes).
  • Berkeringat berlebihan, meski di malam hari.
  • Kehilangan kemampuan menahan urine, sehingga bisa menyebabkan buang air kecil tanpa disengaja saat batuk atau bersin; kondisi ini dikenal sebagai inkontinensia urine.
  • Penipisan tulang yang bisa menyebabkan osteoporosis atau tulang rapuh.
Ada beberapa obat-obatan yang bisa mengatasi gejala ini dengan efek merangsang produksi estrogen dan progesteron. Pengobatan ini disebut sebagai terapi penggantian hormon.

Terjadinya penyempitan vagina
Pengobatan dengan radioterapi pada kanker serviks sering kali menyebabkan penyempitan vagina. Hubungan seks bisa terasa sangat menyakitkan dan sulit. Terdapat dua pilihan pengobatan untuk ini. Pertama, mengoleskan krim hormon pada vagina untuk meningkatkan kelembapan pada vagina. Dan akhirnya, hubungan seks bisa menjadi lebih mudah.

Yang kedua adalah dengan memakai vaginal dilator. Vaginal dilator bisa terbuat dari plastik, karet, atau kaca yang halus. Bentuknya seperti tabung dengan ukuran dan berat yang berbeda-beda. Alat ini berfungsi untuk mengembalikan fleksibilitas vagina. Alat ini akan membuat jaringan vagina menjadi elastis dan hubungan seks akan terasa lebih nyaman. Disarankan memakai vaginal dilator selama lima sampai 10 menit secara teratur selama enam bulan sampai satu tahun.

Banyak wanita yang merasa malu membicarakan tentang alat ini. Tapi metode penanganan ini cukup dikenal untuk masalah penyempitan vagina. Anda bisa menanyakan kepada dokter tentang kelebihan dan kekurangan alat ini.

Munculnya limfedema atau penumpukan cairan tubuh
Limfedema adalah pembengkakan yang umumnya muncul pada tangan atau kaki karena sistem limfatik yang terhalang. Sistem limfatik adalah bagian penting dari sistem kekebalan dan sistem sirkulasi tubuh.

Sistem limfatik mungkin tidak berfungsi dengan normal jika nodus limfa diangkat dari panggul Anda. Salah satu fungsi sistem limfatik adalah membuang cairan berlebih dari dalam jaringan tubuh. Gangguan pada sistem ini bisa menyebabkan penimbunan cairan pada organ tubuh. Penimbunan inilah yang menyebabkan pembengkakan.

Pada penderita kanker serviks, limfedema biasanya terjadi pada bagian kaki. Untuk mengurangi pembengkakan yang terjadi, Anda bisa melakukan latihan dan teknik pemijatan khusus. Perban atau kain pembalut khusus juga bisa membantu untuk mengatasinya.

Secara emosional, didiagnosis mengidap kanker serviks atau merasakan efek samping pengobatannya bisa sangat melelahkan. Bahkan, pengidapnya bisa mengalami depresi. Konsultasikan dengan dokter tentang cara menangani dampak emosional tersebut. Anda juga bisa mencari informasi tentang kelompok dukungan kanker serviks baik di rumah sakit maupun di Yayasan Kanker Indonesia.

Dampak Kanker Serviks Stadium Lanjut

Rasa sakit akibat penyebaran kanker
Rasa sakit yang parah akan muncul ketika kanker sudah menyebar ke saraf, tulang, atau otot. Tapi beberapa obat pereda rasa sakit biasanya bisa dipakai untuk mengendalikan rasa sakit itu. Obat-obatan yang dipakai mulai dari paracetamol, obat antiinflamasi non-steroid atau OAINS, hingga morfin. Semua tergantung pada tingkatan rasa sakit yang dirasakan.

Jika pereda rasa sakit tidak banyak membantu, tanyakan pada dokter tentang obat yang mungkin memiliki efek lebih kuat. Radioterapi jangka pendek juga efektif untuk mengendalikan rasa sakit.

Pendarahan berlebih
Pendarahan berlebih bisa terjadi jika kanker menyebar hingga ke vagina, usus, atau kandung kemih. Pendarahan bisa muncul di rektum atau di vagina. Bisa juga terjadi pendarahan saat buang air kecil. Pendarahan berlebihan bisa ditangani dengan kombinasi obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah. Obat ini bisa menghambat aliran darah.

Pendarahan kecil bisa ditangani dengan obat bernama asam traneksamat. Obat ini akan membuat darah menggumpal, sehingga dapat menghentikan pendarahan yang terjadi. Radioterapi juga efektif dalam menghentikan pendarahan karena kanker.

Penggumpalan darah setelah pengobatan
Seperti kanker lainnya, kanker serviks bisa membuat darah menjadi lebih ‘lengket’ atau ‘kental’ dan cenderung membentuk gumpalan. Risiko penggumpalan darah juga meningkat setelah menjalani kemoterapi dan istirahat pascaoperasi. Munculnya tumor yang besar bisa menekan pembuluh darah pada panggul. Hal inilah yang memperlambat aliran darah dan akhirnya mengakibatkan penggumpalan di kaki. Gejala terjadinya penggumpalan darah pada kaki antara lain:
  • Sakit yang terasa sangat dalam di area kaki yang terkait.
  • Rasa sakit dan pembengkakan di salah satu bagian kaki, biasanya pada betis.
  • Kulit memerah, terutama pada bagian belakang kaki di bawah lutut.
  • Pada bagian yang terjadi penggumpalan, kulit akan terasa hangat.
Yang paling dikhawatirkan adalah terjadinya pulmonary embolism atau emboli paru. Dampak dari kondisi ini bisa sangat fatal. Emboli paru adalah penggumpalan darah dari pembuluh darah di kaki bergerak ke paru-paru dan menghalangi pasokan darah ke paru-paru. Penggumpalan darah di kaki ini bisa ditangani dengan kombinasi obat-obatan pengencer darah, misalnya obat-obatan jenis heparin atau warfarin. Semacam stocking juga akan dibalutkan ke kaki karena bisa membantu memperlancar peredaran darah ke seluruh tubuh.

Gagal ginjal
Ginjal berfungsi membuang materi limbah dari dalam tubuh. Limbah ini dibuang melalui urine melewati saluran yang disebut ureter. Tes darah sederhana bisa dilakukan untuk mengawasi kinerja ginjal. Tes darah ini biasanya disebut sebagai tingkat serum kreatinin.

Pada beberapa kasus kanker serviks lanjutan, kanker bisa menekan ureter. Ini menyebabkan terhalangnya aliran urine untuk keluar dari ginjal. Terkumpulnya urine di ginjal lebih dikenal dengan istilah hidronefrosis. Kondisi ini bisa menyebabkan ginjal membengkak dan meregang. Hidronefrosis parah bisa merusak ginjal sehingga kehilangan seluruh fungsinya. Kondisi inilah yang disebut sebagai gagal ginjal.

Pengobatan untuk gagal ginjal adalah dengan mengeluarkan semua urine yang terkumpul di ginjal. Pipa akan dimasukkan melalui kulit dan ke dalam tiap ginjal, dikenal sebagai nefrostomi perkutan. Pilihan pengobatan lain adalah memperlebar kedua saluran ureter. Ini dilakukan dengan cara memasukkan pipa besi kecil atau stent ke dalam ureter.

Beberapa gejala yang muncul akibat gagal ginjal bisa sangat beragam, yaitu:
  • Sesak napas.
  • Kelelahan.
  • Mual.
  • Pembengkakan pada pergelangan, tangan atau kaki karena penimbunan cairan.
  • Darah dalam urine.
Produksi cairan vagina yang tidak normal
Cairan vagina bisa berbau aneh dan tidak sedap akibat dari kanker serviks stadium lanjutan. Cairan yang keluar bisa muncul karena beberapa alasan, yaitu:
  • Kerusakan pada jaringan sel-sel.
  • Kerusakan pada kandung kemih atau usus sehingga terjadi kebocoran isi organ-organ tersebut yang keluar melalui vagina.
  • Karena infeksi bakteri pada organ vagina.
Pengobatan untuk kelainan cairan vagina ini menggunakan gel antibakteri yang mengandung metronidazole. Bisa juga dengan cara memakai baju yang mengandung zat arang (karbon). Karbon adalah senyawa kimia yang sangat efektif untuk menyerap bau yang tidak sedap.

Fistula
Fistula adalah terbentuknya sambungan atau saluran abnormal antara dua bagian dari tubuh. Pada kasus kanker serviks, fistula bisa terbentuk antara kandung kemih dan vagina. Ini bisa mengakibatkan pengeluaran cairan tanpa henti dari vagina. Terkadang, fistula bisa terjadi antara vagina dan rektum. Fistula termasuk komplikasi yang tidak umum. Kondisi ini hanya terjadi pada 2 persen kasus kanker serviks lanjutan.

Untuk memperbaiki fistula, biasanya perlu dilakukan prosedur operasi. Tapi ini sering kali tidak mungkin dilakukan pada wanita dengan kanker serviks lanjutan, karena kondisi mereka yang sudah sangat lemah. Jika operasi tidak memungkinkan, krim dan pelembap bisa digunakan untuk mengurangi pengeluaran cairan. Ini juga bertujuan untuk melindungi vagina dan jaringan di sekitarnya agar tidak rusak dan terjadi iritasi.




















Penyebab Kanker Serviks

Posted by Bundamedik Healthcare System on 11.06 with No comments
Kanker serviks dimulai ketika sel-sel yang sehat mengalami mutasi genetik atau perubahan pada DNA. Mutasi genetik ini kemudian mengubah sel normal menjadi sel abnormal. Sel yang sehat akan tumbuh dan berkembang biak pada kecepatan tertentu, sedangkan sel kanker tumbuh dan berkembang biak tanpa terkendali.

Jumlah sel abnormal yang terus bertambah akan membentuk tumor. Sel kanker yang muncul kemudian menyerang jaringan di sekitarnya. Sel ini bisa melepaskan diri dari lokasi awal dan menyebar ke wilayah tubuh lainnya, proses ini disebut sebagai metastasis.

Kanker Serviks Akibat HPV atau Human papillomavirus

Ada beberapa faktor risiko yang menyebabkan perempuan terkena kanker serviks. Tapi penelitian menemukan bahkan 99,7 persen kanker serviks disebabkan oleh HPV. HPV adalah satu golongan virus,di mana terdapat lebih dari 100 jenis HPV.

Virus HPV pada umumnya tersebar melalui hubungan seksual, di mana terjadi kontak langsung antara kulit kelamin, membran mukosa, atau pertukaran cairan tubuh, dan melalui seks oral. Setelah memulai hubungan seksual, diperkirakan terdapat 33 persen wanita akan terinfeksi HPV. Beberapa jenis HPV tidak menimbulkan gejala yang jelas, dan infeksi bisa hilang tanpa penanganan medis.

Namun terdapat jenis HPV lainnya yang bisa menyebabkan kutil pada alat kelamin. Jenis HPV penyebab kutil kelamin ini tidak menyebabkan kanker serviks. Ada sekitar 15 jenis HPV yang berpotensi menyebabkan kanker serviks. Dua jenis yang paling umum adalah HPV 16 dan HPV 18. Jenis ini menjadi penyebab kanker serviks pada 70 persen wanita.

Jenis HPV yang berisiko tinggi dianggap mengandung materi genetik yang bisa dipindahkan dari sel virus ke dalam sel leher rahim. Materi ini akan mulai mengganggu kinerja sel, hingga akhirnya sel-sel serviks itu berkembang biak tanpa terkendali. Proses inilah yang menyebabkan munculnya tumor dan kemudian berubah menjadi kanker.

Belum ada obat yang diketahui bisa menyembuhkan infeksi HPV. Virus ini sendiri bisa tetap berada di dalam tubuh dengan atau tanpa penanganan. Tapi, kebanyakan infeksi HPV menghilang tanpa penanganan khusus dalam jangka waktu sekitar dua tahun. Namun, sebagai langkah berjaga-jaga, setiap wanita disarankan untuk menerima vaksinasi HPV untuk mencegah tertularnya jenis virus yang menyebabkan kanker.

Status Prakanker – Cervical Intraepithelial Neoplasia

Kanker serviks butuh bertahun-tahun untuk tumbuh dari sel sehat ke sel prakanker dan akhirnya sel kanker. Perubahan abnormal sel-sel sebelum kanker inilah yang dikenal dengan sebutan cervical intraepithelial neoplasia (CIN) atau sel prakanker. Perubahan sel akibat infeksi HPV menjadi CIN, hingga akhirnya menjadi kanker sangat lambat. Proses ini bisa terjadi dalam kurun waktu 10-20 tahun.

CIN adalah kondisi pertumbuhan sel abnormal sebelum kanker. Kondisi ini umumnya tidak mengancam kesehatan seseorang secara langsung, tapi berpotensi berubah menjadi kanker. Walau risiko sel-sel CIN berubah menjadi kanker tergolong kecil, dokter akan memantau atau menanganinya sebagai langkah pencegahan kanker serviks. Tujuan pap smear adalah mengidentifikasi tahap ini agar CIN ditangani sebelum sepenuhnya berubah menjadi kanker.
Tingkat perubahan sel abnormal bisa dibagi menurut tingkat keparahannya, yaitu:
  • CIN 1 - Kondisi ini terjadi saat perubahan pada sel-sel leher rahim masih sedikit atau tidak terlalu signifikan. Bisa ditangani atau dipantau secara berkala karena sel-sel pada tahap CIN 1 bisa berubah menjadi normal kembali tanpa penanganan medis.
  • CIN 2 – Terjadi perubahan yang lebih dari CIN 2; umumnya sel-sel abnormal diangkat oleh dokter.
  • CIN 3 - Pada tahap ini, perubahan sel sangat abnormal tapi belum bersifat kanker. Sel-sel CIN 3 akan diangkat oleh dokter.

Faktor yang Bisa Meningkatkan Risiko Kanker Serviks

Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko menderita kanker serviks antara lain:
  • Aktivitas seksual terlalu dini: Melakukan hubungan seksual pada umur terlalu dini akan meningkatkan risiko terinfeksi HPV.
  • Berganti-ganti pasangan seksual: Memiliki banyak pasangan seksual akan meningkatkan risiko terinfeksi HPV.
  • Merokok: Wanita yang merokok berisiko dua kali lipat. Ini mungkin disebabkan oleh bahan kimia berbahaya dari tembakau yang muncul di leher rahim.
  • Sistem kekebalan tubuh yang lemah: Kondisi ini mungkin dikarenakan mengonsumsi obat tertentu seperti imunosupresan. Obat ini digunakan agar tubuh tidak menolak donor organ dari orang lain atau karena menderita HIV/AIDS.
  • Melahirkan anak: Makin banyak anak yang dilahirkan seorang wanita, maka risiko mengidap kanker serviks semakin tinggi. Wanita yang punya tiga anak, tiga kali lebih berisiko terkena kanker serviks daripada wanita yang tidak punya anak sama sekali. Diperkirakan bahwa perubahan hormon saat sedang hamil membuat leher rahim lebih rentan terserang HPV.
  • Minum pil kontrasepsi atau KB lebih dari lima tahun: Mengonsumsi pil KB cukup lama akan meningkatkan risiko dua kali lipat mengalami kanker serviks. Meski hal ini masih belum jelas alasannya.

Cara Penyebaran Kanker Serviks

Jika kanker serviks tidak didiagnosis dan tidak ditangani, perlahan-lahan sel kanker akan keluar dari leher rahim dan menyebar ke organ serta jaringan di sekitarnya. Kanker bisa menyebar ke vagina dan otot yang menopang tulang panggul. Sel kanker juga bisa menyebar ke tubuh bagian atas. Kondisi ini akan menghalangi saluran yang mengalir dari ginjal ke kandung kemih atau sering disebut sebagai ureter.

Kanker bisa menyebar ke kandung kemih, rektum, dan akhirnya sampai ke hati, tulang, dan paru-paru. Sel kanker ini juga bisa menyebar ke sistem limfatik. Sistem limfatik terdiri dari serangkaian nodus dan saluran yang menjalar ke seluruh tubuh dengan cara yang sama seperti sistem peredaran darah.

Nodus limfa menghasilkan banyak sel khusus yang dibutuhkan oleh sistem kekebalan tubuh. Jika Anda terinfeksi, nodus di leher atau di bawah ketiak akan membengkak. Pada beberapa kanker serviks stadium awal, nodus limfa yang dekat dengan leher rahim mengandung sel kanker. Dan pada beberapa kanker serviks stadium akhir, nodus limfa di dada dan perut juga bisa terinfeksi kanker.